Wednesday, 14 November 2018

INTENSITAS KEIKUTSERTAAN DALAM KEGIATAN EKSTRA KURIKULER KEAGAMAAN DAN SIKAP KEAGAMAAN SISWA

 INTENSITAS KEIKUTSERTAAN DALAM KEGIATAN EKSTRA KURIKULER KEAGAMAAN DAN SIKAP KEAGAMAAN SISWA

 Strategi Pengelolaan Kegiatan Ekstra Kurikuler Keagamaan Untuk mensukseskan kegiatan ekstra kurikuler keagamaan di SMA Negeri 6 Palembang ada beberapa langkah strategis yang dilakukan yaitu: Membangun jaringan sekolah dan masyarakat, membangun partisipasi guru Non Pendidikan Agama Islam (PAI), 

Pemberian reaward bagi siswa yang berprestasi dalam bidang keagamaan, desain pembelajaran yang menarik dan menyenangkan, memperhatikan perkembangan siswa atau menghindari ketegangan mental ketika berlangsung pembelajaran. Secara garis besar strategi pengelolaan tersebut dipaparkan berkut ini: 1. Jaringan Sekolah dan Masyarakat Dalam rangka mewujudkan visi dan misi sekolah sesuai dengan paradigma baru manajemen pendidikan, dirasakan perlunya revitalisasi hubungan sekolah dengan masyarakat dan lingkungan sekitar.

Mempertimbangkan keperluan ini maka setiap awal tahun pelajaran sekolah mengudang orang tua murid untuk mengenal lebih dekat program dan rencana program yang akan dilaksanakan. Selain itu, ada pertemuan lain dengan calon siswa (calon orang tua siswa) yang dilaksanakan di akhir semester pertama dengan kegiatan yang hampir sama yaitu mengenalkan sekolah berserta berbagai program baik yang telah atau akan dilaksanakan dengan tujuan untuk menarik minat siswa untuk melanjutkan pendidikan di SMA Negeri 6 Palembang. Kegiatan ini oleh panitia disebut dengan open house SMA Negeri 6 Palembang. Hubungan sekolah dengan masyarakat dimaksudkan, menurut Darmi Hartati (Kepala SMA Negeri 6 Palembang) untuk: 1). Mengembangkan pemahaman masyarakat terhadap kegiatan atau program sekolah termasuk ekstra kurikuler keagamaan, 2). Mempersatukan orang tua murid dan guru dalam memenuhi kebutuhan peserta didik, 3). Menilai program sekolah, 4). Mengembangkan kesadaran tentang pentingnya program ekstra kurikuler keagamaan di era globalisasi informasi, 5). Membangun dan memelihara kepercayaan masyarakat terhadap program ekstra kurikuler, 6). Mengerahkan dukungan dan bantuan bagi pemeliharaan dan peningkatan program sekolah. Oleh karena itu, langkah strategis yang pertama yang dilakukan SMA Negeri 6 Palembang adalah membangun jaringan kemitraan dengan masyarakat dan lingkungan sekitar. Langkah ini disepakati melalui rapat dewan guru dengan tujuan agar semua guru mengerti, menerima dan turut melakukan hubungan dimaksud dengan baik. Kemudian kesepakatan ini dipaparkan dihadapan komite sekolah sebagai lembaga resmi yang akan mengakomodasi semua rencana atau program sekolah. Melalui komite inilah jaringan kemitraan atau jaringan sekolah dan masyarakat akan ditindak lanjuti, termasuk dalam hal pendanaan. Menurut Darmi Hartati (Kepala SMA Negeri 6 Palembang) bahwa dukungan komite sekolah dalam masalah pendanaan ini termasuk sesuatu yang prinsip. Artinya, tanpa dukungan moril, materil dari Komite Sekolah, program kerja termasuk SMA Negeri 6 Palembang, khususnya yang berkenaan dengan kegiatan ekstra kurikuler keagamaan akan sulit untuk direalisasikan. 2. Partisipasi Guru Non PAI Pendidikan merupakan suatu sistem yang terdiri dari berbagai kompoenen dan komponen-komponen itu saling berkaia dan berpengaruh secara timbal balik. Oleh karena itu keberhasilan atau kegagalan suatu proses pendidikan tidak dapat dibebankan hanya pada salah satu komponen saja misalnya guru, atau guru Pendidikan Agama Islam untuk pembinaan akhlakul karimah siswa. Hal ini sudah sangat dimaklumi oleh baik Darmi Hartati maupun staf-stafnya. Atas dasar ini maka yang terlibat dalam setiap program atau kegiatan ekstra kurikuler keagamaan bukan saja guru PAI tetapi juga guru-guru yang lainnya. Tetapi sebelum itu ditetapkan biasanya Kepala Sekolah melakukan sosialisasi terlebih dahulu. Dalam sosialisasi itu Kepala Sekolah antara lain menjelaskan tentang tanggung jawab guru-guru (bukan hanya guru PAI) dalam pembinaan moral dan akhlak siswa. Sosialisasi atau rapat ini ditujukan agar para guru tidak merasa terbebani dengan kegiatan ekstra kurikuler keagamaan yang diselenggarakan di SMA Negeri 6 Palembang, tetapi sebaliknya menjadi lebih bersemangat dan dengan kesadaran yang mendalam mendukung suksesnya kegiatan tersebut. 

Program melibatkan guru Non PAI dalam pembinaan moral dan akhlak siswa, menurut Darmi Hartati dapat berjalan dengan baik. Berdasarkan hasil evaluasi pertahun keterlibatan tersebut bukan keterlibatan terpaksa tetapi keterlibatan yang dilakukan dengan penuh kesadaran. Hingga tahun pelajaran 2006/2007 pihak sekolah tidak pernah menerima keluhan-kelurahan guru Non PAI. Sehubungan dengan keterlibatan mereka dalam kegiatan ekstra kurikuler keagamaan.

 Dengan demikian dapat dikemukakan bahwa untuk mensukseskan jalannya kegiatan ekstra kurikuler keagamaan di SMA Negeri 6 Palembang maka sekolah melibatkan semua guru mata pelajaran. Bukan hanya guru mata pelajaran Pendidikan Agama Islam.

 Untuk keperluan ini maka pihak sekolah melakukan sosialisasi melalui rapat dewan guru guna memberikan pemahaman pada guru-guru bahwa pembinaan moral dan akhlak siswa bukan hanya tugas guru Pendidikan Agama Islam. 3. Pemberian reaward bagi siswa yang berprestasi dalam bidang keagamaan Reaward adalah penghargaan. Penghargaan dapat berupa pujian, dapat berupa sertifikat, uang atau berupa barang yang berguna bagi siswa. 

Pemberian reaward diyakini akan meningkatkan motivasi belajar siswa. Menurut Darmi Hartati, SMA Negeri 6 Palembang sudah mentradisikan reaward ini bagi siswa-siswi yang berprestasi termasuk berprestasi dalam bidang keagamaan. Reaward atau penghargaan yang selalu diberikan kepada siswa adalah peringkat 1, 2 dan 3 di kelas memperoleh dispensasi tidak membayar SPP selama 3 bulan. Peringkat 1, 2 dan 3 di sekolah memperoleh dispensasi tidak membayar SPP selama 6 bulan. Kepada anak-anak yang berprestasi dalam bidang keagamaan seperti juara da’i dan da’iya atau memperoleh mendali pada Festifal dan Seni Budaya islam tingkat kota Palembang. Untuk juara tingkat lokal (sekolah) hanya diberi sertifikat dan kado yang isinya buku dan alat tulis yang dibagikan pada saat upacara bendera. 

Reaward ini dapat memacu semangat siswa untuk lebih aktif mengikuti kegiatan-kegiatan ekstra kurikuler. 4. Desain pembelajaran yang menarik dan menyenangkan Kegiatan ekstra kurikuler keagamaan yang diselenggarakan SMA Negeri 6 Palembang dikelola dengan mempetimbangkan desain pembelajaran yang menarik dan menyenangkan, antara lain dengan memperhatikan: 1) cara atau metode yang bervariasi, 2) mengadakan perubahan fisik ruang belajar, 3) menciptakan suasana baru di ruang belajar, 4) melakukan aktifitas rekreasi dan hiburan, 5) menghindari adanya ketegangan mental pada saat pembelajaran berlangsung. Berikut 5 (lima) strategi pembelajaran dalam kegiatan ekstra kurikuler keagamaan yang dikembangkan di SMA Negeri 6 Palembang 

Dikemukakan secara garis besar: a. Belajar dengan Cara atau Metode yang Bervariasi Sebagaimana kita ketahui bahwa aktivitas apa saja, walaupun merupakan aktivitas yang menyenangkan, jika dilakukan terus menerus tanpa perubahan dalam waktu yang lama, aktivitas tersebut akan membuat kita merasa bosan atau jenuh. Selanjutnya kita akan merasa enggan, malas, lesu, dan tidak bersemangat untuk melakukannya. Demikian pula halnya dengan aktivitas belajar dalam kegiatan ekstra kurikuler keagamaan. Jika dilakukan dengan metode yang tidak berubah-rubah, siswa akan dihinggapi rasa bosan jenuh.

 Karena itu, SMA Negeri 6 Palembang melakukan aktivitas belajar dalam kegiatan ekstra kurikuler keagamaan dengan metode yang bervariasi. b. Mengadakan Perubahan Fisik di Ruang Belajar Untuk mencegah dan mengatasi kejenuhan belajar dan juga untuk menambah motivasi belajar, perlu juga diadakan perubahan-perubahan dalam ruang belajar. Mungkin sudah sejak lama letak meja belajar, kursi, dan alat-alat lain di ruang belajar diletakkan di satu sudut tertentu saja. 

Selain itu, mungkin sudah sejak lama dinding ruang belajar tidak dihiasi dengan gambar-gambar yang ada hubungannya dengan kegiatan belajar. Karena itu, dalam kegiatan ekstra kurikuler keagamaan pihak pembina selalu mengubah letak meja belajar, kursi, dan alat-alat lain di ruang belajar. Selain itu, sesekali dalam kegiatan ekstra kurikuler keagamaan menggunakan tempat belajar di tempat lain, misalnya di taman, joglo atau ke pantai atau hutan lindung.

 Hal ini bermanfaat agar selain tidak merasa bosan, kita pun menjadi terbiasa dalam menghadapi perubahan kondisi dan situasi tempat dalam proses belajar. Dengan begitu, pelajaran yang telah dihafalkan dan dimengerti tidak akan mudah hilang dari pikiran, walaupun kita menghadapi ujian di tempat yang kondisinya jauh berbeda dengan ruang belajar kita. c. Menciptakan Suasana Baru di Ruang Belajar Pada umumnya ruang belajar yang tenang dan jauh dari kebisingan merupakan tempat yang ideal untuk belajar. Namun, jika hal ini dilakukan dalam jangka waktu yang lama tanpa perubahan, mungkin saja kita akan dihinggapi kejenuhan belajar. Karena itu, pembina kegiatan ekstra kurikuler keagamaan SMA Negeri 6 Palembang selalu menciptakan suasana baru di ruang belajar, umpamanya dengan belajar sambil mendengarkan, nasyid, musik instrumental yang berirama tenang dan merupakan musik kesenangan siswa. Atau dengarkanlah musik tersebut setiap kali kita berhenti belajar untuk beristirahat sejenak. 

Dengan cara ini, setidak-tidaknya kelelahan dan kejenuhan belajar dapat dinetralisir. d. Melakukan Aktivitas Rekreasi atau Hiburan Sebagaimana telah diuraikan di muka bahwa aktivitas berpikir saat kita belajar merupakan aktivitas mental yang dapat pula menimbulkan kelelahan mental. Perlu diketahui bahwa kelelahan mental yang berlarut-larut dapat menimbulkan kejenuhan belajar bila kita tidak mengimbanginya dengan aktivitas lain yang bersifat rekreatif (hiburan) dan refreshing (penyegaran).

 Salah satu cara untuk mencegah dan mengatasi kejenuhan belajar adalah dengan jalan membuat rencana atau program aktivitas rekreasi dan refreshing yang dapat dilakukan setelah belajar secara kontinu. Pembina kegiatan ekstra kurikuler keagamaan SMA 6 Palembang mengusahakan agar aktivitas-aktivitas tersebut merupakan pengembangan hobby yang berbentuk keterampilan tertentu dan bermanfaat pula untuk menunjang masa depan.

 Perlu diusahakan agar aktivitas-aktivitas tersebut dilakukan secara bervariasi, karena suatu kegiatan hiburan apa pun akan berkurang intensitas hiburannya bila terasa telah membosankan. e. Menghindari Ketegangan Mental Saat Belajar Ketegangan mental akan membuat aktivitas belajar terasa jauh lebih berat dan melelahkan. Ketegangan mental tersebut bila telah dialami dalam waktu lama dapat menimbulkan kejenuhan belajar yang sangat kuat. Berbagai macam sumber penyebab ketegangan mental saat kita belajar sebagaimana telah diuraikan di muka dapat dihindari dengan jalan belajar santai, dalam arti belajar dengan sikap rileks dan bebas dari ketegangan. Intesitas Keikutsertaan Siswa Dalam Kegiatan Ekstra Kurikuler Keagamaan Intensitas yang dimaksud di sini adalah banyaknya (kerapnya) atau valume keikutsertaan siswa dalam mengikuti kegiatan ekstra kurikuler keagamaan di Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 6 Palembang, meliputi: 1) Pelasanaan ibadah sholat perorangan dan rombongan (jama’ah), zakat dan puasa, 2) Tilawah Tahsin Al-Qur’an, 3) Apresiasi Seni dan Kebudayaan Islam, 4) Pesantren Ramadhan, 5) Peringatan Hari Besar Islam (PHBI), 6) Workshop kader dakwah.

  SIMPULAN DAN SARAN

 Simpulan Berdasarkan pembahasan di atas maka dapat dirumuskan beberapa simpulan penelitian, yaitu sebagai berikut: 1. Strategi pengelolaan kegiatan ekstra kurikuler keagamaan di SMA Negeri 6 Palembang dilakukan secara komprehensif dan terpadu yang melibatkan berbagai pihak yang berkepentingan (Stakeholder). Secara kongkrit ada empat strategi yang diterapkan: a. Membangun jaringan sekolah dan masyarakat, b. Melibatkan guru Non PAI, c. Memberikan reaward kepada siswa yang berprestasi dalam bidang keagamaan, d. Mendesain pembelajaran yang menarik dan menyenangkan. 2. Intensitas siswa SMA Negeri 6 Palembang dalam mengikuti kegiatan ekstra kurikuler keagamaan berada dalam klasifikasi tinggi. Dari 75 orang siswa yang diteliti hanya 16 orang atau 21,33% yang intensitasnya termasuk rendah. Kegiatan ekstra kurikuler keagamaan yang diikuti oleh semua siswa meliputi membaca al-qur’an di awal pelajaran pertama, praktik sholat baik individu maupun klasikal/rombongan atau jama’ah, shalat dhuha pada istirahat pertama, kegiatan amaliah ramadhan, pesantren ramadhan, mentoring. sedangkan yang tidak semua siswa mengikutinya adalah kegiatan dalam bentuk ensidentil seperti kader da’i, panitia amil zakat dan apresiasi seni dan budaya Islam. Ada juga kegiatan keagamaan lainnya yang semua siswa mengikinya tetapi tidak dijadikan target penelitian ini yaitu salam pagi, menyetel lagu-lagu nasyid dari ruang guru. 3. Sikap keagamaan siswa SMA Negeri 6 Palembang dalam ibadah mahdho sudah baik. Hal ini setidaknya dapat dilihat dari hasil analisis persentase dimana dari 75 orang siswa yang diteliti, ternyata hanya 8 orang atau 10,6% yang tergolong tidak baik. Sikap keagamaan ini memiliki korelasi yang signifikan dengan intensitas siswa dalam mengikuti kegiatan ekstra kurikuler keagamaan. Dengan kata lain bahwa Intensitas mengikuti kegiatan ekstra kurikuler keagamaan berpengaruh kuat terhadap sikap keagamaan siswa dalam ibadah mahdho. 4. Intensitas siswa SMA Negeri 6 dalam mengikuti kegiatan ekstra kurikuler keagamaan berpengaruh lemah terhadap sikap keagmaan mereka dalam ibadah ghaira mahdho’. Saran-saran Ada beberapa pokok pikiran yang penulis pandang perlu untuk disampaikan disini sebagai saran yaitu sebagai berikut: 1. Kepada guru pembina penyusun program ekstra kurikuler keagamaan hendaknya dapat menyesuaikan silabus majlis ta’lim bulanan dan mentoring pagi minggu dengan perkembangan mental siswa. Kapasistas mereka sebagai siswa yang memang sedang krisis identitas jangan dimanfaatkan untuk keperluan sesaat misalnya agar kelihatan bahwa ada aktivitas keagamaan yang menonjol di SMA Negeri 6 Palembang. Ada fenomena bahwa ketika siswa duduk di kelas 1 semester pertama setelah mereka mendapatkan pendadaran maka ketika itu seolah-olah secara drastis berubah berubah, menjadi fanatik, menjadi frontal dan bahkan pada beberapa siswa menjadi tidak terkendali karena merasa dirinyalah yang paling benar. Fanatisme ini ternyata hanya semu, tidak berakar. Terbukti setelah mereka duduk di kelas 2 atau kelas 3 keadaan bisa berubah menjadi berbalik 180 derajat. Mereka tidak lagi shalat tepat waktu, tidak mengikuti ta’lim pagi, mentoring atau pengajian bulanan. 2. Kepada guru pembina penyusun jadwal atau rekrutmen narasumber hendaknya lebih selektif dalam memilih penceraham atau tutor. Jangan sampai visi organisasi tertentu ikut mewarnai potret SMA Negeri 6 Palembang yang notabene merupakan lembaga pendidikan nasional dan bukan lembaga misi. Menggunakan narasumber yang berasal dari organisasi tertentu dapat beresiko bagi keberadaan SMA dan perkembangan anak didik. 3. Kepada pembina ekstra kurikuler keagamaan SMA Negeri 6 Palembang, khusus yang berkenaan dengan program ta’lim, mentoring atau pengajian, hendaknya mengubah paradigma atau pendekatan dalam memahami agama dari pendekatan normatif ke pendekatan sain atau filsafat. Memahami ajaran agama melalui mata pelajaran tertentu. Artinya, guru menggunakan ilmu sosiologi, biologi, fisika, dan lainnya dalam memahami agama. Dengan cara yang kedua ini (pembelajaran berbasis nilai) diharapkan ajaran atau nilai agama yang disampaikan akan bertahan lama dilubuk sanubari siswa. Sehingga siswa mengamalkan ajaran agama bukan karena terpaksa (takut dengan tata tertib, disiplin atau peraturan sekolah) tetapi mengamalkan ajaran agama yang memang berangkat dari kesadaran yang mendalam.

No comments:

Post a Comment