Tuesday, 13 November 2018

KARAKTER GURU DAN EFEKNYA PADA SISWA

KARAKTER GURU DAN EFEKNYA PADA SISWA 
 Guru merupakan unsur yang sangat dominan dan dinilai sangat penting dalam jalur pendidikan sekolah (formal) pada umumnya, karena bagi siswa guru sering dijadikan sebagai tokoh teladan bahkan menjadi tokoh identifikasi diri. Demikian pula dalam proses pembelajaran guru harus memiliki kemampuan tersendiri guna mencapai harapan yang dicita-citakan dalam melaksanakan proses belajar mengajar.

 Untuk memiliki kemampuan tersebut guru perlu membina diri secara optimal sebagai karekteristik pekerjaan profesional. Secara operasional terdapat beberapa pandangan mengenai definisi guru yaitu: 1. Menurut pandangan tradisional; guru adalah seorang yang berdiri di depan kelas untuk menyampaikan ilmu pengetahuan 2. Menurut pandangan seorang ahli pendidikan; guru adalah seorang yang menyebabkan orang lain mengetahui atau mampu melaksanakan sesuatu atau memberikan pengetahuan atau keterampilan kepada orang lain Kata guru dalam bahasa Arab disebut mu’allim dan dalam bahasa Inggeris disebut dengan teacher itu memiliki makna yang sangat sederhana, yaitu “a person whose accupation is teaching other”. Artinya guru adalah seorang yang pekerjaannya mengajar orang lain.


 Demikian pula yang terdapat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, guru dimaknai sebagai seorang yang pekerjaannya (mata pencahariannya, profesinya) mengajar. Dalam Undang-undang RI Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru, pada Bab I pasal 1 disebutkan bahwa guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini di jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah. 

Selanjut Ahmad Tafsir menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan guru adalah pendidik yang memberikan pelajaran kepada murid, dan biasanya guru adalah pendidik yang memegang mata pelajaran di sekolah. Karena itu jelaslah sudah bahwa yang dimaksud guru agama adalah pendidik yang mengampu mata pelajaran agama di sekolah tanpa membeda-bedakan agama tertentu. Guru agama (Islam) sebagai pengampu dan penanggung jawab mata pelajaran Pendidikan Agama Islam, menurut Zuhairini (1997) mempunyai tugas lain yaitu mengajar ilmu pengetahuan agama Islam, menanamkan keimanan ke dalam jiwa anak didik, mendidik anak anak agar taat menjalankan agama, dan mendidik anak-anak agar berbudi pekerti yang mulia. 

Kemudian dalam menjalankan kewenangan profesionalnya, guru dituntut untuk memiliki berbagai kecakapan (competencies) yang bersifat psikologis yang meliputi: kompetensi kognitif (ranah cipta), kompetensi apektif (ranah rasa) dan kompetensi psikomotor (ranah karsa) (Muhibbin Syah 2010). Ramayulis (1994) mengemukakan bahwa ada beberapa jenis kompetensi yang harus dimiliki oleh guru agama (Islam), antara lain: 1) mengenal dan mengakui harkat dan potensi dari setiap individu atau murid yang diajar, 2) membina suatu suasana sosial yang meliputi interaksi belajar mengajar sehingga amat bersifat menunjang secara moral (bathiniah) terhadap murid bagi terciptanya kesepahaman dan kesamaan arah dalam pikiran serta perbuatan murid dan guru, dan 3) membina suatu perasaan saling menghormati, saling bertanggung jawab dan saling percaya mempercayai antara guru dan murid. Selanjutnya kompetensi guru agama yang dikembangkan oleh Abdul Mudjieb (1993) meliputi kategori berikut yaitu: 

1) penguasaan materi al-islam yang komprehensif serta wawasan dan bahan penghayatan, terutama pada bidang yang menjadi tugasnya,
2) penguasaan strategi (mencakup pendekatan, metode dan teknik) pendidikan Islam, termasuk kemampuan evaluasinya, 
3) penguasaan ilmu dan wawasan kependidikan,
4) memahami prinsip-prinsip dan menafsirkan hasil penelitian pendidikan pada umumnya guna keperluan pengembangan pendidikan Islam,
 5) memiliki kepekaan informasi secara langsung yang mendukung kepentingan tugasnya. 

Sedangkan menurut Hadari Nawawi (1993), bahwa seseorang dapat dikatakan sebagai pendidik yang sebenarnya, jika di dalam dirinya terkandung beberapa aspek yang diidentifikasi sebagai kompetensi, yang meliputi: 1. Kewibawaan merupakan sikap dan penampilan yang dapat menimbulkan rasa segan dan hormat, bukan yang berdasarkan tekanan, ancaman ataupun sanksi, melainkan atas kesadarannya sendiri. 2. Memiliki sikap tulus ikhlas dan pengabdian sikap tulus ikhlas tampil dari hati yang rela berkorban untuk anak didik, yang diwarnai juga dengan kejujuran, keterbukaan dan kesabaran, 3. Keteladanan Keteladanan yang dimiliki seorang guru memegang peranan penting dalam proses pendidikan, karena guru adalah orang yang pertama setelah orang tua yang mempengaruhi pembinaan kepribadian seseorang.

 Karena itu seorang guru yang baik senantiasa akan memberikan yang baik pula kepada anak didiknya. Mahmud Yunus (1966) dalam Ahmad tafsir (2011) menyatakan bahwa selain memiliki kompetensi seorang guru Pendidikan Agama islam juga harus memiliki sifat-sifat yang baik yaitu:

 1. Kasih sayang pada murid. 2. Senang memberikan nasehat. 3. Senang memberikan peringatan. 4. Senang melarang murid melakukan hal yang tida baik. 5. Bijak dalam memilih bahan pelajaran yang sesuai dengan lingkungan murid. 6. Hormat pada pelajaran lain yang bukan menjadi pegangannya.7. Bijak dalam memilih bahan pelajaran yang sesuai dengan taraf kecerdasan murid. 8. Mementingkan berpikir dan berijtihad. 9. Jujur dalam keilmuan dan. 10.Adil

No comments:

Post a Comment