Thursday, 7 February 2019

Implimentasi Pembelajaran abad 21

Sejak munculnya gerakan global yang menyerukan model pembelajaran baru untuk abad ke¬21, telah berkembang pendapat bahwa pendidikan formal harus diubah. Perubahan ini penting untuk memunculkan bentuk-bentuk pembelajaran baru yang dibutuhkan dalam mengatasi tantangan global yang kompleks. Identifikasi kompetensi siswa yang perlu dikembangkan merupakan hal yang sangat penting untuk menghadapi abad ke-21. 

Pendekatan tradisional yang menekankan pada hafalan atau penerapan prosedur sederhana tidak akan mengembangkan keterampilan berpikir kritis atau kemandirian siswa. Setiap individu harus terlibat dalam pembelajaran berbasis inkuiri yang bermakna, memiliki nilai kebenaran dan relevansi, untuk mengembangkan keterampilan berpikir tingkat tinggi yang mereka perlukan (Barron and Darling-Hammond, 2008).

 Setiap siswa belajar dengan cara yang berbeda-beda, sehingga guru ditantang untuk menemukan cara membantu semua siswa belajar secara efektif. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa terdapat bentuk-bentuk pedagogi yang secara konsisten lebih berhasil dari yang lain dalam membantu siswa memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang keterampilan abad ke-21. 


Pedagogi yang dimaksud termasuk strategi pembelajaran pribadi, pembelajaran kolaboratif dan pembelajaran informal, seperti yang dinyatakan oleh Scott (2015c) dari berbagai referensi. Siswa harus mengasah keterampilan dan meningkatkan belajar untuk dapat mengatasi tantangan global, seperti keterampilan berpikir kritis, kemampuan berkomunikasi secara efektif, berinovasi dan memecahkan masalah melalui negosiasi dan kolaborasi.

Namun demikian, dari sisi pedagogi belum disesuaikan untuk mengatasi tantangan-tantangan tersebut. Model pembelajaran 'transmisi' masih dominan dalam pendidikan di berbagai belahan dunia (Saavedra dan Opfer, 2012). Model 'transmisi' tidak efektif untuk mengajarkan keterampilan abad ke-21.

 Pembelajaran semacam ini biasanya mengarah kepada ketidakpedulian, sikap apatis dan kebosanan. Sebaliknya, siswa harus belajar berinteraksi dengan guru dan teman sebaya, berlatih menerapkan keterampilan dan pengetahuan yang baru diperoleh, berbagi dengan teman-temannya melalui kolaborasi yang dirancang untuk mendukung setiap individu dalam beradaptasi terhadap masalah baru dan kontekstual. 

Tanpa kesempatan untuk berlatih dan menerapkan pengetahuan baru dalam berbagai konteks, adaptasi dan integrasi pengetahuan baru tidak akan tercapai dan akan melumpuhkan kreativitas. Meskipun secara umum diakui bahwa kompetensi dan keterampilan abad ke-21 yang kompleks dan menantang untuk dipelajari, namun bahwa siswa tidak mengembangkannya kecuali mereka secara eksplisit diajarkan. Saavedra dan Opfer (2012) menyatakan bahwa bahwa kompetensi dan keterampilan yang kompleks tersebut harus dikembangkan terpadu dengan pembelajaran dan bukan dengan pembelajaran tersendiri.

Di antara ragam kompetensi dan keterampilan yang diharapkan berkembang pada siswa sehingga perlu diajarkan pada siswa di abad ke-21 di antaranya adalah personalisasi, kolaborasi, komunikasi, pembelajaran informal, produktivitas dan content creation. Elemen tersebut juga merupakan kunci dari visi keseluruhan pembelajaran abad ke-21. 

Dunia kerja juga sangat memerlukan keterampilan personal (memiliki inisiatif, keuletan, tanggung jawab, berani mengambil resiko, dan kreatif), keterampilan sosial (bekerja dalam tim, memiliki jejaring, memiliki empati dan rasa belas kasih), serta keterampilan belajar (mengelola, mengorganisir, keterampilan metakognitif, dan tidak mudah patah semangat atau merubah persepsi/sudut pandang dalam menghadapi kegagalan).

No comments:

Post a Comment